Jumat, 17 Januari 2014
ANJING-ANJING NERAKA
Sabda Rasulullah S.A.W kepada Mu'adz, "Wahai Mu'adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan :
· Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin.
· Bacalah Al-Qur'an
· tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain.
· Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain.
· Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka.
· Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat.
· Jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik.
· Jangan engkau membisikkan sesuatu sedang dekatmu ada orang lain.
· Jangan engkau merasa tinggi dan mulia daripada orang lain.
· Jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu.
Nescaya di akhirat nanti, kamu akan dirobek-robek oleh anjing neraka. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud, "Demi (bintang-bintang) yang berpindah dari satu buruj kepada buruj yang lain."
Sabda Rasulullah S.A.W., "Dia adalah anjing-anjing di dalam neraka yang akan merobek-robek daging orang (menyakiti hati) dengan lisannya, dan anjing itupun merobek serta menggigit tulangnya."
Kata Mu'adz, " Ya Rasulullah, siapakah yang dapat bertahan terhadap keadaan seperti itu, dan siapa yang dapat terselamat daripadanya?"
Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur’an
Semoga Catatan ini bisa menjadi bahan Renungan Buat Kita Tentang
Pentingnya menjaga Lidah Kita karena kelak semua yang keluar dari mulut kita akan
dimintai pertangungjawaban
Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam
Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya
melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah
tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya
beberapa saat.
Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin
Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawabannya tidak
tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan
yang diajukan kepadanya.
Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh.”
Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya : “Salam
sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)
Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”
Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 ) (“Barang siapa
disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”)
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.
Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?”
Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.”
(QS. Al-Isra’ : 1) (“Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari
masjid haram ke masjid aqsa”)
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak
menuju ke masjidil Aqsa.
Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?”
Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (“Selama tiga malam dalam
keadaan sehat”)
Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”
Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (“Dialah pemberi aku
makan dan minum”)
Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?”
Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah :6)
(“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”) 29
Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?”
Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187) (“Kemudian
sempurnakanlah puasamu sampai malam”)
Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?”
Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. Al-
Baqarah:158) (“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)
Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”
Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah :
184) (“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”)
Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”
Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (“Tiada
satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”)
Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?”
Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu
ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (“Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu
ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)
Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”
Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (“Pada
hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”)
Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan
perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”
Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (“Barang
siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”)
Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30)
(“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai
untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya.
Wanita itu berucap lagi.
Wanita tua : “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. Asy-
Syura’ 30) (“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”)
Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.”
Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (“Maka kami telah memberi
pemahaman pada nabi Sulaiman”)
Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Abdullah : “Silahkan naik sekarang.”
Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila
robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (“Maha suci Tuhan yang telah 30
menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya
kami akan kembali pada tuhan kami”)
Saya pun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita
tua itu berkata lagi.
Wanita tua : “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (“Sederhanakan
jalanmu dan lunakkanlah suaramu”)
Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu
berucap.
Wanita tua : “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (“Bacalah
apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)
Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”
Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (“Dan
tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”)
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?”
Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101)
(“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”)
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”
Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (“Adapun
harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”
Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (“Dengan
tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”)
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji
mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.
Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?”
Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (“Kami jadikan
ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146)
(“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam
: 12) (“Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”)
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah
anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang
baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita
itu. 31
Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa
tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (“Maka suruhlah salah seorang
dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih
baik agar ia membawa makanan itu untukmu”)
Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu
menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
Wanita tua : “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. Al-
Haqqah : 24) (“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu
kerjakan di hari-hari yang telah lalu”)
Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya
sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :
“Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara
mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah bicara.”
Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya
saya pun berucap :
“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21)
(“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah
pemberi karunia yang besar”)
10 PESANAN ALLAH S.W.T KEPADA NABI MUSA A.S.
Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata Rasulullah S.A.W bersabda : "Allah S.W.T. telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10 bab :
· Wahai Musa jangan menyekutukan aku dengan suatu apa pun bahwa aku telah memutuskan bahwa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin.
· Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu dari sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.
· Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.
· Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.
· Jangan hasad dengki dan irihati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku.
· Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.
· Jangan mencuri dan jangan berzina isteri jiran tetanggamu sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.
· Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.
· Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.
· Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi : "Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa a.s. dan Allah S.W.T memilih hari Juma'at sebagai hari raya untukku."
5 WASIAT DARI ALLAH S.W.T. KEPADA RASULULLAH S.A.W
Dari Nabi S.A.W., "Pada waktu malam saya diisrakkan sampai ke langit, Allah S.W.T telah memberikan lima wasiat, antaranya :
· Janganlah engkau gantungkan hatimu kepada dunia kerana sesungguhnya Aku tidak menjadikan dunia ini untuk engkau.
· Jadikan cintamu kepada-Ku sebab tempat kembalimu adalah kepada-Ku.
· Bersungguh-sungguhlah engkau mencari syurga.
· Putuskan harapan dari makhluk kerana sesungguhnya mereka itu sedikitpun tidak ada kuasa di tangan mereka.
· Rajinlah mengerjakan sembahyang tahajjud kerana sesungguhnya pertolongan itu berserta qiamullail.
Ibrahim bin Adham berkata, "Telah datang kepadaku beberapa orang tetamu, dan saya tahu mereka itu adalah wakil guru tariqat. Saya berkata kepada mereka, berikanlah nasihat yang berguna kepada saya, yang akan membuat saya takut kepada Allah S.W.T.
Lalu mereka berkata, "Kami wasiatkan kepada kamu 7 perkara, iaitu :
· Orang yang banyak bicaranya janganlah kamu harapkan sangat kesedaran hatinya.
· Orang yang banyak makan janganlah kamu harapkan sangat kata-kata himat darinya.
· Orang yang banyak bergaul dengan manusia janganlah kamu harapkan sangat kemanisan ibadahnya.
· Orang yang cinta kepada dunia janganlah kamu harapkan sangat khusnul khatimahnya.
· Orang yang bodoh janganlah kamu harapkan sangat akan hidup hatinya.
· Orang yang memilih berkawan dengan orang yang zalim janganlah kamu harapkan sangat kelurusan agamanya.
· Orang yang mencari keredhaan manusia janganlah harapkan sangat akan keredhaan Allah daripadanya."
Kamis, 16 Januari 2014
Menyempitkan Cara Pandang Hidup Beragama
Menyempitkan
cara pandang hidup beragama orang yang terkena pengaruh fatwa-fatwa kaum
Salafi Wahabi biasanya jadi berpikiran
sempit dalam memandang kehidupan beragama, yaitu hanya antara Sunnah dan Bid'ah, itupun
menurut definisi mereka sendiri, padahal banyak urusan lain di
dalam kehidupan beragama yang juga butuh perhatian besar.
Akibatnya, orang itu tidak bisa
leluasa melihat kemaslahatan atau kebaikan suatu tradisi atau amalan yang di
dalamnya diselipkan nilai-nilai agama atau unsur-unsur berbau agama, hanya
karena "format"nya mereka anggap tidak pernah dikerjakan oleh
Rasulullah Saw.
padahal menurut para
ulama, tidak dikerjakannya suatu amalan tidak menunjukkan bahwa amalan itu
terlarang.
Cara
pandang yang sempit seperti ini kemudian melahirkan dua keadaan pada diri orang itu,
yaitu:
1. Fokus melaksanakan ibadah dengan
format yang menurutnya persis seperti disebutkan di dalam sunnah Rasulullah
Saw.
2. Waspada
dari perkara-perkara yang mereka anggap sebagai bid'ah.
Keadaan yang pertama akan membuat orang itu merasa bangga
dengan amal ibadahnya sendiri, sebab ia merasa amal ibadahnya itu bernilai
karena sesuai sunnah. Di samping itu, keadaan tersebut juga bisa membangkitkan
kesombongan saat melihat amal ibadah orang lain yang mereka anggap tidak sesuai
sunnah sehingga menjadi sia-sia dan tidak berpahala.
Sementara itu, keadaan yang kedua, yaitu
kewaspadaannya terhadap perkara yang ia anggap bi'dah dengan pengertian yang tidak jelas,
akan menumbuhkan ketakutan akan terjerumus kepada perbuatanbid'ah yang pada puncaknya berubah
menjadi sikap paranoid terhadap setiap perkara baru berbau
agama.
Saking paranoidnya, maka setiap menjumpai perkara baru
berbau agama dalam bentuk apa saja (baik ucapan maupun perbuatan).
orang itu selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan
seperti, "Adakah
dalilnya?", "Shahih kah dalilnya?", "Apakah Rasulullah Saw.
atau para Shahabat beliau melakukannya?".
Dari kebiasaan ini, dan dari kesempitan cara pandang mereka
yang selalu membagi urusan agama cuma antara Sunnah
& Bid'ah, maka
terlontarlah ungkapan-ungkapan yang penuh kesombongan seperti berikut: "Tidak ada
dalilnya!", "Hadisnya dha'if (lemah)!", "Tidak pernah
dilakukan Rasulullah Saw.!"
Ungkapan "Tidak ada dalilnya!" adalah
ungkapan yang tergesa-gesa dalam menghukumi suatu amalan, banyak pendakwah Salafi Wahabi ini berani
melontarkannya kepada masyarakat dengan maksud meyakinkan mereka seolah memang
suatu amalan itu tidak ada dalilnya, padahal di sana ada ratusan bahkan ribuan
jilid kitab tafsir dan kitab hadis yang jika mereka kaji satu persatu maka
dalil itu akan mereka temukan.
Kesombongan mereka membuat diri mereka seolah
sudah menelusuri semua kitab-kitab itu dan seolah mereka sudah hafal seluruh
dalil, lalu berani memastikan ada atau tidak adanya dalil.
dan akibat merajalelanya isu sunnah & bid'ah serta
upaya kaum Salafi & Wahabi dalam menterjemah buku-buku mereka dan
menerbitkannya secara bombastis ke tengah-tengah masyarakat.
Hal-hal
yang perlu kita waspadai adalah:
sikap beragama mereka banyak yang bertentangan dengan para
ulama Contohnya:
Minggu, 12 Januari 2014
Sedikit mengeal ilmu salaf
Semua umat islam yang ada di muka
bumi ini yang berniat untuk menjadi manusia yang bertakwa tentunya akan
berusaha untuk terus mendekatkan diri pada yang maha kuasa. Salah satunya
adalah saya yang berusaha untuk belajar mendalami sesuatu ilmu dan berharap
ilmu itu berguna untuk dunia dan ahiratku nanti.
Dalam masa kebimbangan dan kita berusaha
untuk mencari petunjuk, datanglah sebuah harapan. Harapan itu tentunya bisa datang
dari mana saja ( keluarga, teman atau lingkungan tempat tinggal)
Dan diantara ketiga tempat itu
temanlah yang sangat berpengaruh besar dalam belajar. Karena banyak alasan kenapa
temanlah yang sangat berpengaruh. Karena keterbatasan kita berkomunikasi dalam
keluarga sangat terbatas atau bahkan tertutup. karena orang-orang yang ada
dalam keluarga tak banyak memperdulikan
dan memperhatikan kebutuhan kita sebagai mahluk pencari jalan tuhan, Yang pingin
mendapatkan kebahagian baik dunia dan ahirat.
Dan dari situlah aku mengenal
sedikit dunia salafi dan wahabi.
Awalnya banyak keraguan karena secara logika banyak sekali
yang tidak masuk dalam akal dan daya pikirku.
Tahukah bahwa Kaum Salafi & Wahabi tidak menggunakan ulama
ushul yaitu ulama yang ahli mengenai pembahasan dasar-dasar ajaran agama di
dalam membahas dalil-dalil tentang bid'ah, sehingga orang-rang salafi terjebak
di dalam pembahasan dan fatwa yang tidak seragam.malah banyak yang
diperdebatkan.
Apalagi mereka hanya mengambil
pendapat ulama salaf tanpa mengetahui asal-usul penjelasannya dari para ulama setelah
mereka, maka perbedaan paham itu menjadi hal yang kemungkinannya sangat kecil.
Oleh karena itu, antara mereka saja
banyak terjadi perbedaan pendapat. Hal ini terjadi karena masing-masing mereka
selalu berupaya merujuk langsung suatu permasalahan kepada al-Qur'an, hadis,
dan pendapat ulama salaf. Tentunya, kapasitas keilmuan dan kemampuan yang
berbeda dalam memahami dalil, akan memunculkan perbedaan pandangan dalam
menyimpulkan dalil tersebut.
Asal tahu saja, proses seperti
inilah yang banyak memunculkan aliran-aliran sesat dan nabi-nabi palsu yang ada
saat ini, di mana setiap pelopornya merasa berhak mengkaji dalil secara
langsung dan memahaminya menurut kemampuannya sendiri masing-masing.
Sungguh berbeda dari ajaran
mayoritas ulama yang mengajarkan proses penyampaian ilmu atau wewenang dari seorang
guru kepada muridnya.
Kita pasti banyak menemukan (dalam
kitab-kitab mereka ataupun dalam buku-buku terjemahannya bahkan dalam gaya bicara
mereka yang dilanjutkan oeh para pengikutnya), dimana kaum Salafi & Wahabi
akan banyak berkata, "Berdasarkan firman Allah atau "Berdasarkan sunnah/hadis Rasulullah
Saw. Sedangkan para pengikut ulama
mayoritas banyak berkata, "Menurut Imam Nawawi di dalam kitab beliau …………
Lebih mengagetkan lagi ketika seorang
temanku datang dan bertamu kerumah dan datang bersama suaminya,mereka tidak
masuk ketika di persilakan. Hanya temanku saja yang mau masuk sedangkan
suaminya hanya mau duduk di kursi depan.
Ada lagi yang sempat kurasakan aneh
ketika aku puasa senin dan kamis ditanyakan tujuannya untuk apa dan aku hanya
malah mendapatkan dalil baru.apa lagi biasanya setelah solat kebiasaanku adalah
bersalaman dengan sesama yang ada di didekat kita. Sedangka n temankupun punya
kebiasaan yang berbeda. Dan masih banyak
lagi contohnya
Dan jika mereka menanyakan, bukankah
lebih tinggi al-Qur'an dan hadits daripada pendapat para ulama? Benar, tetapi
masalahnya bukan pada al-Qur'an atau hadistnya, melainkan pada pemahamannya.
Yang terasa kaum salafi wahabi
banyak keliru menempatkan dalil karena hanya disampaikan secara Dzahir dan
harfiah saja.sehingga terkadang fatwa yang mereka keluarkan selalu terkesan
aneh. Dan jika kita sadar maka itu sangat membahayakan kita dalam berkehidupan
bermasyarakat karena pahamnya sangat banyak penyimpangan dalam aqidah
Ahlussunah wal-jama’ah.
Jika kita masuk dan terlalu dalam ke
dalam pembelajaran dan doktrinpun sudah masuk kuat maka kita akan sangat sulit
saat membedakan mana hal-hal yang benar dan salah untuk di lakukan. Karena yang
ada hanyalah untuk ketaatan semata.
Tapi jika belum terlalu jauh dan masih pasif mungkin
sebagian dari kita bisa menyikapi perbedaan itu dengan bijaksana, meski
terkadang keraguan itu muncul.
Tapi bila pahamnya diyakini makan
akan menjadi benar dan jika tidak maka golongan sepertiku ini termasuk “sesat”.
Karena mereka menganggap pahamnya sangat istimewa maka yang
ku lihat malah banyak memperlihatkan sifat sombing bagi para jamaahnya “pengikutnya”
Dan selama aku belajar sebentar
bersama mereka, aku malah merasa banyak muncul permasalahan dalam rumah
tanggaku. Banyak perdebatan kecil yang meluap hingga menjadi besar.
Munculnya sifat egoisku dan memaksa pasanganku untuk
beribadah seperti yang aku mau, karena aku merasa benar.
Ternyata dampak dari belajar
sebentar saja sudah sangat besar.
Jika ini berlanjut maka bisa hancur rumah tanggaku.
Sebagai kondektur dalam rumah tangga
aku harus mengalah untuk keutuhan dan keharmonisan rumah tanggaku.
Harusnya kita bisa beribadah bersama dan saling mengingatkan
untuk urusan dunia ahirat kami agar tetap seimbang.
Rasanya memulai beribadah setelah
mengenal dunia salaf terasa sangat hambar dan berat karena pada saat berada di
salaf kita memperoleh kepuasan dan kenyamanan yang luar biasa.
Dan yang terjadi ketika memulai dari nol lagi sebagai
pribadi yang seperti dulu beribadah terasa sulit dan merasa hambar.
Tapi buat kebaikan aku harus yakin
tuhan akan menunjukkan jalan yang lurus buat kita yang mau berusa. Amin
Masih banyak sekali yang belum tertulis dari pengalamanku
mengenal dunia salaf.mohon bantuan kritik dan saran jika ada banyak yang tidak
sependapat!.
Terimakasih.
Sabtu, 11 Januari 2014
The birth of Prince Siddhartha Gautama
The birth of Prince Siddhartha Gautama
Although King Suddhodana and Queen Maya long-married, but
the children that they crave they had not yet acquired, until the time of Queen
Maya reached the age of + / - 45 years.
When was Queen Maya Asalha participate in the celebration
which lasted for seven days. After the celebration of the completion of Queen
Maya bath with scented water, Uposatha vows and then went into the bedroom
During sleep the dream of Queen Maya obtain a grotesque.
Queen dreamed that four Supreme Deity has raised and brought to Himava (Mount
Everest) and put it under the tree in the Sala (slope) Manosilatala. Then the
wife of the Great Gods Anotatta bathe in a lake, rubbed with fragrant oils and
then put it plain clothes worn by the gods. Furthermore, the Queen led entering
into a golden palace and recline on a divan good. That's where the white
elephant holding a lotus flower in its trunk entered the room, around the couch
as much as three times to enter the stomach and then Queen Maya from the right.
Queen tells the dream to the king and the king then summoned
the Brahmins to ask the meaning of the dream.
The Brahmin explained that she will conceive a baby boy that
would become a Cakkavatti (King of all kings) or a Buddha.
Indeed, since the day that the Queen and Queen Maya contains
can see clearly that the unborn baby is sitting in a meditation posture with
the front facing forward.
Ten months later at the Queen Vaisak crap beg the favor of
the King to be able to give birth at her mother's house in Devadaha.
On the way to the Queen's entourage came Devadaha in Lumbini
(now Rumminde in Pejwar, Nepal) is beautiful. In the Queen's garden party
ordered to stop to rest. Queen happily walk in the park and stopped under Sala
tree. At that time the Queen felt her stomach a little less comfortable. With
the fast ladies in waiting to make curtain around the Queen. Queen hold onto
branches Sala and the stance that the Queen gave birth to a baby boy. When it
is right full moon in the month sidhi Vaisak in 623 BC
Four Maha Brahma received the baby with gold mesh and then
from the sky down cold and hot water to bathe the baby to be fresh.
The baby itself is clean because there is no blood or other
stains attached to his body. The baby was then stood upright and walked seven
steps on seven lotus flowers toward the North.
Four Maha Brahma received the baby with gold mesh and then
from the sky down cold and hot water to bathe the baby to be fresh.
The baby itself is clean because there is no blood or other
stains attached to his body. The baby was then stood upright and walked seven
steps on seven lotus flowers toward the North.
After walking seven baby steps and uttered the following
words:
“Aggo ‘ham asmi lokassa.
jettho ‘ham asmi lokassa.
settho ‘ham asmi lokassa.
ayam antima jati,
natthi dani punabbhavo.”
jettho ‘ham asmi lokassa.
settho ‘ham asmi lokassa.
ayam antima jati,
natthi dani punabbhavo.”
Meaning:
"I am the leader in this world,
I'm the oldest in the world,
I'm the Greatest in the world,
This is the last birth,
there will be no rebirth again. "
A hermit named Asita (who is also called Kaladevala) while
meditating in the Himalayas, notified by the gods of nature Tavatimsa that a
baby has been born who would become Buddha. On the same day the ascetic Asita's
visit to the Palace of King Suddhodana to see the baby.
After seeing the baby and noticed the sign of a Mahapurisa
32 ("great man"), the ascetic Asita salute to the baby which was then
followed by King Suddhodana.
After Asita salute laughing happily, but then began
to cry.
Answering the question of King Suddhodana, the ascetic Asita
explained, that the baby will become a Buddha, but because of his advanced age
he himself no longer able to wait until the baby was later start gives His
teachings.
Because urged by King Suddhodana who do not want their
children to become a Buddha, then the ascetic Asita said, that one day the little
prince should not see the four events, namely
1 parents
2. patient
3. the dead
4. holy hermit
If Prince was seen four such events , then he would
immediately leave the palace and imprisoned for being Buddhist .
On the same day of birth anyway ( raised ) in this world :
1 . Princess Yasodhara , who later also known as Rahulamata
( mother of Rahula ) .
2 . Ananda, who later became aide remains of the Buddha.
3 . Kanthaka , which later became the horse of Prince
Siddhattha .
4 . Channa , who later became the charioteer of Prince
Siddhattha .
5 . Kaludayi , who later invited the Buddha to come back to
Kapilavatthu .
6 . An elephant palace .
7 . Bodhi tree ; under this tree in the future prince
Siddhattha gain enlightenment .
8 . Nidhikumbhi , jug place treasures .
Five days after the birth of the baby , King Suddhodana
summoned his relatives gathered , together with 108 people to celebrate the
Brahmin first child and also to choose a good name . Among the Brahmins
Brahmins are 8 people who are proficient in fortune-telling , namely : Rama ,
Dhaja , Lakkhana , Manti , Kondanna , Bhoja , Suyama and Sudatta .
The forecasters , except Kondanna , predicted that the baby
would become a Cakkavati ( King of all kings ) or will become a Buddha . Only
Kondanna ( the youngest Brahmin ) alone say with certainty , that the baby will
become a Buddha . The name that was chosen was Siddhattha which means "
The achievement of all his ideals . "
Seven days after the birth of Prince Siddhattha , Queen Maya
died and was reborn in the Tushita heaven .
King Suddhodana handed over to the care of the
baby Pajapati Princess ( sister of Queen Maya ) who is also marrie
Langganan:
Postingan (Atom)










